Puncak Harlah ke-69 JATMAN

JAKARTA, SP – Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menghadiri Puncak Tasyakuran Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (13/10/2026).
Dalam momen tersebut, Gus Kikin melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kiprah JATMAN selama 69 tahun mengawal laku tasawuf di tubuh Nahdlatul Ulama. Prosesi itu didampingi Mudir Ali Idarah Aliyyah JATMAN KH Ali Masykur Musa, Sekretaris Umum JATMAN KH Ali M Abdillah, Koordinator Lajnah Mubahatsah Masail Ash-Shufiyah JATMAN Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani, serta Rais Syu’biyyah JATMAN Jombang Dr KH Abdul Kholiq Hasan.
Baca Juga: Presiden Didesak Pecat Jaksa Agung ST Burhanuddin
Ajakan Bertarekat untuk Jernihkan Hati
Mudir Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Ali Masykur Musa mengajak pengurus dan warga NU untuk kembali menekuni jalan tarekat. Menurutnya, tarekat menjadi jalan untuk menjernihkan hati sekaligus menguatkan kehidupan ruhani di tengah derasnya tantangan zaman.
“Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat,” seru Ali Masykur di hadapan jamaah.
Baca Juga: Wilianus Yan Dihukum 2,6 Tahun Penjara Karena Terbukti Memeras
Ia menilai, pendidikan ruhani merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Sistem pendidikan modern cenderung lebih menitikberatkan pada kecerdasan kognitif dan keterampilan teknis, sementara dimensi spiritual terabaikan. Padahal, hati memiliki peran sentral dalam memandu setiap amal dan pengambilan keputusan manusia.
“Kalau hati itu jernih, maka seluruh pengambilan keputusan, seluruh tindakan yang diamalkan adalah bicara dengan hati,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa baik buruknya perilaku seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Kekeliruan dan pelanggaran syariat bukan semata karena persoalan lahiriah, melainkan karena hati yang tidak berfungsi.
“Banyak orang yang salah, melanggar syariat, itu bukan karena matanya yang buta, tapi sungguh yang buta adalah hatinya,” tuturnya sembari mengutip potongan Surah al-Hajj ayat 46.
Ali Masykur menambahkan, tarekat merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi NU. Bahkan, amalan tersebut menjadi inspirasi para muassis dalam merumuskan gerakan organisasi di bawah bimbingan Syekhona Kholil Bangkalan.
“Maka dengan demikian, tarekat adalah amalan dari Nahdlatul Ulama yang menjadi inspirasi dari para muassis di bawah pimpinan sang guru Kiai Kholil Bangkalan,” pungkasnya.
Baca Juga: Menkop Resmikan Pelepasan Ekspor Kopi Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah ke Aljazair
Hati sebagai Modal Organisasi
Senada, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menyebut kemampuan mengelola hati sebagai modal utama dalam mengembangkan organisasi. Menurutnya, persatuan sebagai syarat kemajuan organisasi hanya dapat dicapai jika hati antar anggota saling terjaga dan tersambung.
Semangat tersebut, kata Gus Kikin, tercermin dalam kiprah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU hingga Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) untuk melawan kolonialisme. Hal itu merupakan turunan nilai persatuan yang tertuang dalam Qanun Asasi.
“Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, yang disebut hati itu tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan paham yang berbeda-beda pun ikut,” terang Gus Kikin.
Baca Juga: Agus Gumiwang Akan Laporkan Oknum LSM Penebar Fitnah
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur itu juga menekankan pentingnya melatih spiritualitas dalam ibadah. Tanpa pembiasaan laku tasawuf, ibadah seperti shalat akan mudah teralihkan oleh kepentingan duniawi dan tidak fokus karena Allah. “Nah ini kalau tidak diasah, shalatnya itu susah, baru takbiratul ihram itu sudah ingat macam-macam. Enggak tersambung dengan Allah,” jelasnya.
Padahal, lanjut dia, shalat menjadi pengantara untuk mencegah seseorang dari perbuatan tercela. Untuk itu, Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 tersebut menggandeng JATMAN untuk terus mengampanyekan pendidikan berbasis ruhani.
“Ini kita harus lebih serius lagi di dalam melakukan pendidikan hati ini, dan yang bisa melakukan dengan serius itu adalah JATMAN ini,” pungkasnya. [YRS]