Monday 20th April 2026
By Sipri

BPKN: Mahasiswa Harus Cintai Produk dalam Negeri

JAKARTA, SP – Seluruh mahasiswa Indonesia khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya agar tidak membeli barang-barang asing yang beredar di Indonesia. “Cintailah produk dalam negeri. Hindari membeli barang asing,” kata anggota  Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Dr. Novrianyah, S.H.,M.H.

Lelaki kelahiran Sumatera Selatan itu mengatakan itu dalam acara “Sosialisasi Edukasi Perlindungan Konsumen Menuju Indonesia Emas: Majukan Produk dalam Negeri yang Berkualitas dan Aman” di  Kampus Universitas Tama Jagakarsa Jakarta, Senin (20/4/2026).

Dalam acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Tama Jagakarsa itu  Novriansyah menduga maraknya produk asing di Indonesia terutama produk usaha mikro kecil dan menengah merupakan misi negara-negara tertentu untuk menghancurkan produk-produk UMKM Indonesia. “Saya menduka ini misi negara asing untuk menghancurkan Indonesia. Oleh karena itu saya meminta masyarakat Indonesia terutama para mahasiswa agar hindari produk asing tetapi belilah produk Indonesia,” kata dia.

Baca Juga: Impor Bahan Baku Plastik Tidak Perlu Pertimbangan dari Kementerian Perindustrian

Ketika ditanya soal jenis-jenis produk asing yang beredar di Indonesia, sayang sekali Novriansyah menjawab tidak mempunyai data. “Data-data seperti itu adanya di Kementerian Perdagangan,” kata dia.

Ketika ditanya bagaimana mencegah masuknya produk asing di Indonesia, ia pun menjawab itu tugas dari Kementerian Perdagangan. “Kami hanya memberi masukan kepada Presiden,” kata dia.

Novriansyah mengakui bahwa produk tekstil di Pasar Tanabang Jakarta didominasi produk asing dan masyarakat membelinya karena harganya murah. “Barang-barang produksi asing harga lebih murah dan tampilannya lebih bagus,” kata dia.

Ia meminta mahasiswa dan anak-anak muda Indonesia membeli pakaian, produksi kecantikan, jam tangan dll utamakan produk dalam negeri. “Biarlah murah yang terpenting produk dalam negeri,” kata dia.

Baca Juga: 11 Orang Jadi Tersangka di Kasus TPPO, Menteri Karding Minta Kapolda Kejar Tangkap Hukum Berat Bos Mafia

Jenis-Jenis Produk Impor

Sumber dari Kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa  komoditas Impor di Indonesia antara lain, pertama, peralatan Mekanik.  Salah satu komoditas impor Indonesia adalah mesin dan berbagai peralatan mekanik yang dibutuhkan oleh industri dalam negeri. Indonesia kerap mengimpor peralatan mekanik dari Jepang, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, dan Tiongkok.

Kedua, peralatan elektronik.  Indonesia mengimpor peralatan elektronik dari luar negeri. Adapun beberapa jenis peralatan elektronik yang diimpor ke Indonesia adalah smartphone, mesin cuci, AC, komputer, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Alumninya Langsung Kerja, AK-Tekstil Solo Siap Bangkitkan Kinerja Industri TPT

Ketiga, produk plastic. Indonesia mengimpor plastik berupa barang-barang yang berkaitan dengan peralatan sehari-hari, seperti peralatan makan dan minum. Barang-barang tersebut sering kali didatangkan dari negara Tiongkok. Selain itu, Indonesia juga mengimpor bahan baku plastik dan ampas sampah plastik. Bahan baku plastik merupakan salah satu komoditas impor indonesia dari negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Keempat, kendaraan seperti sepeda motor dan mobil merupakan salah satu komoditas impor Indonesia yang utama. Namun tidak hanya kendaraan, namun Indonesia juga melakukan impor terhadap suku cadang kendaraan.

Komoditas impor yang satu ini rata-rata berasal dari negara Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, India, Malaysia, Thailand, dan lain-lain. Selain negara Asia, Indonesia juga mengimpor kendaraan, utamanya mobil dari negara Eropa, seperti Italia, Jerman, dan Inggris.

Baca Juga: Kemenperin: Gen Z Jadi Pasar Potensial Bagi Industri Batik

Kelima, produk fashion. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa produk-produk fashion di Indonesia didominasi oleh merek-merek dari luar negeri. Tidak hanya pakaian, namun produk fashion ini juga mencakup sepatu, tas, perhiasan, aksesoris, dan lain-lain. Keenam, alat medis. Komoditas impor Indonesia berikutnya adalah peralatan medis. Meski kini sudah banyak produsen Indonesia yang bisa menghasilkan alat medis berkualitas, namun produk impor terkadang pun masih diperlukan.

Ketujuh, aluminium.  Aluminium juga termasuk dalam salah satu komoditas impor Indonesia hingga saat ini. Kedelapan, buah dan sayur.  Salah satu komoditas impor indonesia yang merupakan bahan baku penolong adalah buah dan sayur. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa per Oktober 2023 Indonesia telah mengimpor buah-buahan sebanyak 53.761.922 kilogram sejumlah  US$ 117.684.445.

Kesembilan, besi dan baja. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, per Oktober 2023 Indonesia telah mengimpor besi dan baja sejumlah 848.965.318 USD dengan total berat 1.096.914.188 kilogram. Sebagai informasi, Indonesia paling banyak mengimpor besi dan baja dari China, Jepang,dan Afrika Selatan.

Perkuat Struktur Manufaktur Nasional

Sebelumnya anggota Komisi VII DPR RI Ilham Permana menyatakan keprihatinannya atas penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2025 yang berada di level kontraksi 46,7 atau terendah sejak masa pandemi Covid-19.

Menurutnya, penurunan itu merupakan cerminan dari dampak kebijakan proteksionis global, terutama tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika Serikat (AS), serta banjir produk impor dari negara-negara yang mencari pasar alternatif. “Situasi ini tidak hanya mengganggu daya saing industri nasional, tetapi juga mengancam ketahanan struktur industri dalam negeri,” ujarnya melansir dpr.go.id.

Baca Juga: Anggota DPR Minta Polisi Tak Pidanakan Aktivis Agraria di NTT

Sebagai Anggota Komisi VII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ilham mendorong kebijakan industri diarahkan pada penguatan struktur manufaktur nasional secara menyeluruh.
Data Kemenperin menunjukkan, sekitar 80 persen produk manufaktur Indonesia diserap pasar domestik. “Ini menandakan pentingnya perlindungan terhadap pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri produk impor yang tidak terkendali,” jelasnya.

Ilham menekankan, tantangan yang dihadapi sektor manufaktur saat ini memerlukan respons terintegrasi antar-kementerian dan dukungan lintas sektor. Oleh karenanya, kata dia, kolaborasi lintas sektor untuk memitigasi efek domino dari tekanan global tersebut sangat penting. Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan, kondisi wait and see dari pelaku industri bukanlah situasi yang bisa dibiarkan terlalu lama. “Harus ada kepastian kebijakan, perlindungan yang konkret, dan dorongan optimisme dari pemerintah agar pelaku usaha kembali percaya diri untuk ekspansi, bukan justru melakukan efisiensi berlebihan hingga mengurangi tenaga kerja,” tegasnya.

Ilham pun mendukung langkah-langkah strategis yang telah dan akan diambil Kemenperin dalam menghadapi tekanan tersebut.

Menurutnya, langkah Kemenperin yang aktif merespons kekhawatiran pelaku industri, termasuk melalui diplomasi perdagangan dengan mitra internasional dan upaya memperkuat kebijakan substitusi impor, perlu mendapat dukungan penuh. “Kami di DPR RI siap mengawal arah kebijakan yang proindustri dan memastikan kebijakan fiskal, tarif, hingga investasi berpihak pada penguatan industri dalam negeri,” jelasnya. [tim]

  • No Comments
  • April 20, 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *